Pasar Batik Cirebon " Magrak "
Kab Cirebon : Kelanjutan pembangunan Pasar Batik di Desa Weru Lor,
Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon masih membutuhkan dana sekitar 12 miliar.
Dana tersebut diperlukan untuk membangun kekurangan 86 kios serta sejumlah
fasilitas pendukung seperti areal parkir, gapura, tugu, selasar koridor, dan
lain-lain.
Kepala Seksi Bangunan dan Gedung pada Dinas Cipta Karya
Kabupaten Cirebon Yedi Adhi Priatna mengatakan, pihaknya membersihkan ilalang
dan menata beberapa bagian fasilitas umum seperti toilet dan jalan lingkar agar
Pasar Batik Weru bisa dimanfaatkan oleh para perajin pada kuartal kedua 2014.
“Namun secara keseluruhan pembangunan Pasar Batik ini belum selesai,” katanya
saat ditemui di Pasar Batik Weru, Kamis (15/1/2014).
Menurut Yedi, pasar tersebut rencananya akan memiliki 198
kios seperti yang diusulkan oleh para pedagang. Namun saat ini baru 112 kios
yang sudah terbangun. Begitu juga fasilitas toilet yang rampung baru satu titik
di blok terdepan pasar. Sementara jalan lingkar di sekitar pasar baru
terselesaikan 50 persen karena terbatasnya anggaran.
“Untuk penataan sementara ini kami baru mendapatkan dana
dari APBD Perubahan Kabupaten Cirebon 2013 sebesar Rp 300 juta. Rp 150 juta
kami gunakan untuk menata toilet, membersihkan ilalang yang memenuhi jalan
antar blok kios, serta memperbaiki bagian-bagian kios yang sempat rusak,” tutur
Yedi.
Yedi mengakui, Pasar Batik tersebut memang dibangun atas
usulan dari warga dan pemerintah Kabupaten Cirebon sejak 2011 lalu. Namun pada
prakteknya, Pemkab Cirebon sudah mengajukan permohonan bantuan ke Pemprov Jawa
Barat terkait pendanaan proyek tersebut. Bahkan dalam nota kesepahaman, Pemprov
Jawa Barat menyatakan kesediaan untuk mendanai seluruh pembangunan pasar,
sedangkan Pemkab Cirebon hanya menyediakan lahan seluas 2,5 hektare.
Awalnya, Yedi menambahkan, Pemkab Cirebon telah mengajukan
kebutuhan total Rp 14 miliar ke Pemprov Jawa Barat pada 2011 lalu. Namun
Pemprov Jawa Barat saat itu baru menyanggupi kucuran dana sebesar Rp 6 miliar.
“Itupun tidak semuanya terserap, karena keterbatasan waktu. Pada 2011 hanya 88
persen dana yang terserap untuk membangun 112 kios, saluran air, perkerasan
jalan, urugan tanah, dan pagar di sisi barat,” ujarnya.
Sementara sisa 12 persen dari Rp 6 miliar tersebut baru bisa
dikucurkan kembali pada tahun anggaran 2012. Dana tersebut kemudian digunakan
untuk mengecor atap blok kios, menata tiang-tiang blok dengan profil pahatan,
dan beberapa kegiatan lain.
Selama 2013, proyek tersebut sempat mangkrak akibat tidak
adanya anggaran untuk meneruskan pembangunan. Akibatnya, delapan blok kios yang
sudah rampung terbengkalai sampai dipenuhi ilalang. Sementara bangunan kiosnya
sendiri mengalami kerusakan di beberapa bagian.
Menurut Yedi, pada 2013 pihaknya sebenarnya sudah mengajukan
permohonan bantuan dana ke Pemprov Jawa Barat melalui surat yang ditandatangani
bupati Dedi Supardi pada Februari 2013. “Namun pengajuan dinyatakan terlambat,
karena APBD Provinsi Jawa Barat sudah disahkan pada Januari,” katanya.
Meskipun demikian, Yedi meyakinkan bahwa permohonan tersebut
sudah dibahas Pemprov untuk dianggarkan pada APBD 2014. Namun ia belum yakin
bahwa semua sisa kebutuhan dana bisa dipenuhi. Soalnya, dari anggaran yang
dijanjikan pada 2011 Rp 14,75 miliar, masih tersisa Rp 8,75 miliar. Jumlah
itupun membengkak sampai Rp 11,9 miliar seiring naiknya harga satuan bahan dan
upah akibat dinamika ekonomi yang terjadi selama 2013.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Kabupaten Cirebon, Haki pernah mengatakan bahwa pihaknya mendapat alokasi Rp
4,8 miliar dari APBD Kabupaten Cirebon 2014 untuk pemanfaatan Pasar Batik pada
awal Maret mendatang. Dana itu akan digunakan untuk pengelolaan oleh
Disperindag dan pembenahan beberapa fasilitas pasar oleh Distarcip ( pikiranrakyat.com )









Tidak ada komentar
Posting Komentar