Wisata Linggarjati
KUNINGAN : Linggajati, juga dieja Linggarjati, adalah sebuah desa di kecamatan Cilimus, Kuningan yang terletak di kaki Gunung Ceremai, antara
Lata Linggajati yang menjadi nama
desa ini konon terkait dengan kisah perjalanan Sunan Gunung Jati, salah satu di
antara Wali Songo, penyebar agama Islam di tanah Jawa. Beberapa pendapat dan
arti kata "Linggajati" di antaranya ialah :
Pendapat Sunan Kalijaga
Menurut Sunan Kalijaga kawasan
ini disebut "Linggajati" karena merupakan tempat linggih (lingga)
Sunan Gunung Jati
Pendapat Sunan Bonang
Menurut Sunan Bonang nama
"Linggajati" mempunyai alasan bahwa sebelum Sunan Gunung Jati sampai
ke puncak Gunung Gede, beliau linggar (berangkat) meninggalkan tempat setelah
beristirahat dan bermusyawarah tanpa mengendarai kendaraan, melainkan memakai
ilmu sejati
Pendapat Sunan Kudus
Menurut Sunan Kudus nama "Linggajati"
berasal dari kata nalingakeun ilmu sejati, karena di tempat inilah para wali
songo bermusyawarah dan menjaga rahasia ilmu sejati agar tidak diketahui oleh
orang banyak
[sunting]Pendapat Syekh Maulana
Maghribi
Menurut Syekh Maulana Magribi, desa
itu dinamai "Linggajati" yang berarti tempat penyiaran ilmu sejati
Lokasi
Gedung Perundingan Linggajati
terletak di Desa Linggajati, Kecamatan Cilimus, sekitar 14 kilometer dari Kota
Kuningan atau 26 kilometer dari Kota Cirebon. Desa Linggajati berada pada
ketinggian 400 meter di atas permukaan laut. Desa ini sebelah selatan
berbatasan dengan Desa Linggarmekar, sebelah utara berbatasan dengan Desa
Linggarindah dan di sebelah barat berbatasan dengan Gunung Ciremai.
Gedung yang berada di Desa Linggajati
ini pernah menjadi tempat perundingan pertama antara Republik Indonesia
dengan Belanda pada tanggal 11-13 November 1946. Dalam perundingan itu, Pemerintah RI
diwakili oleh Perdana Menteri Sutan Syahrir, sedangkan Pemerintah Kerajaan
Belanda diwakili oleh Dr.
Van Boer. Sementara yang menjadi pihak penengah
adalah Lord Killearn, wakil Kerajaan Inggris. Perundingan tersebut menghasilkan
naskah perjanjian Linggajati yang terdiri dari 17 pasal, yang selanjutnya
ditanda-tangani di Jakarta pada tanggal 25 Maret 1945.
Peristiwa perundingan yang
berlangsung tiga hari itu ternyata merupakan satu mata rantai sejarah yang
mampu mengangkat nama sebuah bangunan mungil di desa terpencil itu menjadi
terkenal di seluruh Nusantara, bahkan di pelbagai penjuru dunia. Bangunan itu
kemudian dipugar oleh pemerintah tahun 1976 dan dijadikan sebagai bangunan
cagar budaya dan sekaligus objek wisata sejarah.
Data Bangunan
Gedung Perundingan Linggajati
saat ini berdiri di atas areal seluas sekitar 24.500 meter persegi, dengan luas
bangunan sekitar 1.800 meter persegi. Bangunan tersebut terdiri atas: ruang
sidang, ruang sekretaris, kamar tidur Lord Killearn, ruang pertemuan Presiden
Soekarno dan Lord Killearn, kamar tidur delegasi Belanda, kamar tidur delegasi
Indonesia, ruang makan, kamar mandi/WC, ruang setrika, gudang, bangunan
paviliun, dan garasi.
Sebagai catatan, ruangan dan
segala perabotan yang ada di dalam gedung pada tahun 1976 (saat dipugar oleh
pemerintah), dibuat sedemikian rupa agar data dan suasananya sedapat mungkin
sama pada seperti tahun 1946 (sewaktu perundingan dilaksanakan). Selain itu, di
dalam gedung juga dilengkapi dengan gambar/foto situasi saat perundingan
berlangsung dan bahan-bahan informasi lain bagi pengunjung.
Gedung Linggajati mempunyai
sejarah yang panjang. Sudah banyak peristiwa yang ia saksikan di tempat itu.
Sebab, dari tahun 1918 gedung ini telah berkali-kali beralih fungsi. Pada tahun
1918 gedung ini hanya berupa sebuah gubuk milik Ibu Jasitem yang kemudian
diperisteri oleh Tuan dari Tersana, seorang Belanda. Tahun 1921 dirombak dan
dibangun setengah tembok dan dijual kepada van Oos Dome (van Oostdom?). Tahun
1930 diperbaiki menjadi rumah tinggal keluarganya. Tahun 1935 dikontrak oleh
van Hetker (van Heeker?) yang merombaknya lagi menjadi Hotel Rustoord
(Rusttour?). Tahun 1942 direbut oleh Jepang dan diubah menjadi Hokai Ryokai
(Hokai Ryokan?). Tahun 1945 direbut oleh pejuang kita untuk markas BKR dan
diubah namanya menjadi Hotel Merdeka. Tahun 1946 di Hotel Merdeka berlangsung
Perundingan Linggarjati. Tahun 1948 untuk markas tentara Kolonial Belanda.
Tahun 1949 dikosongkan. Tahun 1950-1975 untuk Sekolah Dasar Linggarjati I.
Kemudian, tahun 1977-1979 bangunan yang sudah bobrok itu dipugar oleh
pemerintah kemudian dijadikan sebagai muesum memorial.









Tidak ada komentar
Posting Komentar