Header Ads


Mengenang Nike Ardilla di Tahun 2014

TEPAT ditanggal 19 maret 2014, 19 tahun yang lalu, Nike Ardilla berpulang ke Rahmatullah dalam sebuah kecelakaan lalulintas. Dia adalah penyanyi serbabisa yang sempat merambah karier ke dunia model, bintang film, dan bintang sinetron. Si pemilik wajah sendu khas mojang Bandung ini bernyanyi di jalur musik slow rock dan menjadi penyanyi di usianya yang masing anak-anak. Ia memang mengawali karier keartisannya sejak dini bahkan sampai menjadi finalis Gadis Sampul dan pada akhir 80-an, beberapa kali membintangi film. 

Peringatan wafatnya cewek yang punya nama lengkap Raden Nike Ratnadilla rutin dilakukan tiap tahun. Penggemar Nike-lah yang tiap tahun berinisiatif menggelar acara ini. Bisa dibilang, tak ada penggemar seloyal fans-nya Nike. Bukan tak mungkin, bila fans-nya tak seloyal ini, nama Nike barangkali sudah terlupakan. Setiap tahunnya peringatan kematian Nike biasanya dikoordinir oleh Nike Ardilla Fans Club (NAFC). NAFC merupakan wadah resmi penggemar Nike.

Perjalanan hidup Nike Ardilla
Nike lahir di Bandung, 27 Desember 1975. Bakat menyanyi Nike mulai tumbuh sejak masih berumur 5 tahun. Darah seni Nike mengalir dari kakeknya. Kakeknya seorang penyanyi keroncong. Di umur 5 tahun, kata Alan yang mengurus museum Nike Ardilla, Nike sudah berani tampil menyanyi. "Dulu di rumah itu sering ada kumpul-kumpul. Nike sering bernyanyi di situ," sebut Alan lagi.
Tak puas berkarier di jalur musik, dara bertinggi/berat 168/50 ini terjun pula ke dunia akting. Ia pernah membintangi sinetron None, Warisan, Trauma Marissa. Di sinetron, Nike tak canggung berakting bersama El Manik, Rano Karno, dan Didi Petet. Nike memang laris di layar perak. Dalam tiga tahun ia juga tercatat membintangi sembilan film, Kasmaran (1987), Gadis Foto Model (1988),Si Kabayan saba Metropolitan/Kota (1989), Nakalnya Anak Muda (1990), Lupus IV (1990), Olga & Sepatu Roda (1991). Saat panggung musik rock dicekal akibat kerusuhan konser Metallica di Jakarta tahun 1993, Nike tak panik. Tawaran bermain sinetron, film, menjadi model iklan serta pemotretan berbagai media cetak datang sambung menyambung.
Meski populer dan mengantungi banyak uang, tak membuatnya ia lupa berbagi dengan orang lain. Tahun itu juga, ia mendirikan Yayasan Pendidikan Wawasan Nusantara bagi anak anak cacat di Jalan Soekarno-Hatta, Bandung. Di yayasan itu ia menjabat sebagai penyandang dana sekaligus Sekretaris Yayasan.
Langkahnya di dunia seni kian tak terbendung setelah merilis album Nyalakan Api. Album itu kembali meraih BASF Awards. Nike juga menyabet penghargaan sebagai pendatang baru terbaik pada Asia Song Festival di Shanghai (1991).
Bak kata pepatah, semakin tinggi pohon, semakin kencang angin bertiup. Dia mulai diterpa banyak gosip. Ada kabar yang mengatakan Nike pencandu  alkohol, obat terlarang, dan lesbianisme. Menghadapi gosip itu, cewek yang sampai akhir hayatnya tak bisa mengabulkan cita-cita mendirikan madrasah dan menunaikan ibadah umrah ini, tetap tegar.
Menurut Alan, semasa hidup Nike tergolong tipe orang dewasa. "Padahal umurnya di bawah saya. Malah bisa dbilang dia itu lebih dewasa dari saya. Mungkin ini karena dia bergaul dengan banyak orang. Nike juga sering mengajarkan saya bersosialisasi. Baru setelah dia meninggal, saya menyadari ilmu yang diajarkan itu ternyata sangat berguna," papar Alan.
Di mata sang ibunda, Nike tergolong anak yang sangat manja. Maklumlah ia anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan. Saking manjanya, walau sudah cukup dewasa, Nike tidur bersama kedua orangtuanya. Nike juga tipikal gadis pemurah. Kepada siapapun ia sering memberi. "Apalagi pada orangtuanya," kenang Ningsih lagi. (dikutip:tabloidbintang)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.