Header Ads


Warisan Sejarah Tua Untuk Wisata Budaya Dan Wisata Alam

Baduy saat ini merupakan destinasi wisata budaya dan wisata alam, menyebut dirinya sebagai orang Kanekes merupakan sebuah komunitas kecil dari suku Sunda. Dengan populasi saat ini berkisar 12.000-13000 orang, masyarakat Baduy hidup di pedalaman pegunungan Kendeng di provinsi Banten, menempati luas kawasan sekitar 50 km2 dimana didalamnya terdapat sekitar 40 -50 kampung. Sekitar abad ke 16-an, mereka menolak pengaruh budaya asing dengan tetap mempertahankan nilai-nilai adat dan budaya sunda wiwitan dengan mengasingkan diri di pegunungan kendeng.
Upaya masyarakat Baduy dalam mempertahankan cara hidup yang dilakukan nenek moyang nya dengan dua prinsip utama yaitu, 1. meyakini kepercayaan terhadap Tuhan yang tunggal yaitu batara tunggal yang menurutnya tinggal di pegunungan kendeng. Pegunungan Kendeng dipercaya sebagai tanah yang suci dan dilarang untuk dimasuki manusia. 2. melindungi hubungan antara manusia dengan alam. seperti yang di jelaskan oleh Iskandar (2007 : 115) prinsip hukum adat Baduy adalah : “bukit tidak boleh dihancurkan, lembah tidak boleh di rusak, apa yang lama tidak boleh dipercepat, apa yang pendek seharusnya tidak boleh diperpanjang” dengan prinsip-prinsip tersebut, masyarakat baduy dilarang kembali mengolah tanah yang pernah digunakan sebagai lahan pertanian, termasuk melarang budidaya padi dipersawahan (menggunakan area tanah hanya untuk berladang dan berhuma bukan bersawah), tidak boleh membajak, menggali sumur, mengunakan pestisida dan lain sebagainya. keluarga baduy tidak mengunakan bahan-bahan anorganik dalam kehidupan rumah tangganya.
Agar tidak merusak struktur tanah, rumah tempat mereka tinggal dibangun dengan sistem panggung dimana tatapakan dari batu menopang rumah masyarakat Baduy. ada sejumlah larangan yang sangat tabu seperti larangan menggunakan sandal ataupun sepatu, memelihara hewan, membawa barang atau apapun dengan alat angkutan, menggunakan listrik dan banyak lagi. semua ini dilakukan untuk menjaga keharmonisan dengan hutan dan sungai serta menghindari kerusakan alam.
Terdapat dua kelompok besar dalam masyarakat Baduy yaitu Baduy dalam dan Baduy Luar. Baduy Dalam berjumlah sekitar 1.150 orang tinggal di kampung tangtu telu, desa Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Baduy dalam sangat memegang teguh prinsip nenek moyang dan hidup dengan cara-cara tradisional, Baduy dalam dianggap sebagai pelindung keseimbangan alam dengan merawat hutan, sungai, dan gunung-gunung sehingga manusia dapat hidup secara harmonis dengan Bumi.
Semenjak dahulu hubungan orang-orang baduy dengan non-Baduy sangat terbatas dan dibatasi. identitas Baduy dalam dalam kesehariannya mengenakan kemeja putih dan penutup kepala putih sebagai perlambang kemurnian. sementara untuk perempuannya menggunakan rok berwarna abu-abu. Lain halnya dengan Baduy luar, mereka berpakian hitam dan batik biru, menempati 40 desa-desa penyangga guna melindungi kesucian Baduy dalam dari pengaruh dunia luar.
Walaupun bermukim di pedalaman terpencil dengan medan yang cukup berat, Baduy Luar kurang ketat mematuhi budaya tradisional yang diajarkan nenek moyangnya, mereka terlibat dengan dunia luar namun cara ini cukup efektip untuk membantu mempertahankan kemurnian Baduy Dalam dari pengaruh luar.
Perkembangan baru-baru ini telah mengakibatkan Baduy melakukan peningkatan hubungan dengan dunia luar, sebagian besar hubungan tersebut dibangun karena adanya kerjasama pariwisata yang berkonsep ekowisata dan wisata budaya. Selain itu, kepentingan usaha di wilayah Baduy yang kaya sumber daya alam, berpotensi mengancam perilaku hidup dan budaya masyarakat Baduy. feel the heart of Java ecotourism
( Sumber : wisatahalimun.co.id )

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.