Seni Pertunjukkan dalam Berbagai Upacara
Pada masa sebelum Islam dikenal, Gordang Sambilan adalah upacara pemanggilan roh nenek moyang pada masyarakat Batak Mandailing, Sumatera Utara. Tujuannya adalah untuk meminta pertolongan roh nenek moyang dalam mengatasi kesulitan yang sedang menimpa. Selain itu, Gordang Sambilan juga digunakan untuk upacara meminta hujan agar dapat mengatasi kekeringan. Gordang Sambilan juga dikenal sebagai alat musik kesenian tradisional Mandailing yang sudah mulai popular di Indonesia bahkan di dunia.
Gendang yang terdiri dari sembilan buah gendang ini memiliki ukuran yang relatif besar dan panjang. Adapun sembilan gendang tersebut memiliki ukurang dari yang terbesar hingga yang terkecil. Tabung resonator Gordang Sambilan terbuat dari kayu yang dilubangi dan salah satu ujung lubangnya ditutup dengan membran yang terbuat dari kulit lembu dan ditegangkan dengan rotan sebagai pengikat.
Instrumen musik tradisional Gordang Sambilan dilengkapi dengan dua buah gong besar. Nama gong yang paling besar adalah ogung boru boru (gong betina) dan yang lebih kecil dinamakan ogung jantan, satu gong yang lebih kecil lagi dinamakan doal, dan tiga gong yang paling kecil diberi nama salempong atau mong-mongan. Terdapat pula perlengkapan lainnya yaitu alat tiup yang terbuat dari bambu dinamakan sarune.
Pada permainan ensambel ini yang memimpin adalah pasangan gordang yang paling besar, jangat. Pemain jangat diberi gelar panjangati yaitu pargodang (pemusik) yang menguasai pola ritmik instrumen.
Jika ingin menggunakan Gordang Sambilan untuk kepentingan pribadi harus mendapat izin dari pemimpin tradisional terlebih dahulu. Pemimpin tradisional disebut Namora Natoras dan dari raja sebagai kepala pemerintahan. Proses permohonan izin ini melalui suatu musyawarah adat yang disebut markobar.
Saat upacara kematian harus menyembelih satu ekor kerbau jantan dewasa yang sehat. Dalam upacara kematian menggunakan dua buah instrumen yang bernama jangat, namun dalam upacara ini dinamakan bombat.
Penggunaan gordang sambilan dalam upacara adat disertai dengan peragaan benda-benda kebesaran adat. Adapun fungsi lain dari Gordang Sambilan adalah sebagai pengiring tari yang dinamakan Samara. Penyerama (orang menarikan Tari Sarama) kadang mengalami kesurupan karena dimasuki roh nenek moyang.
( Sumber : kebudayaanindonesia.net )









Tidak ada komentar
Posting Komentar