Header Ads


PERTAHANKAN TRADISI, KERATON KAPRABONAN CUCI PUSAKA

LEMAHWUNGKUK, (89.2 CR).- Menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Kaprabonan Cirebon, Rabu (25/1) melaksanakan ritual pencucian benda pusaka di Musholla Kaprabonan, Komplek Kaprabonan, Jalan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, yang bertepatan dengan tanggal 1 Maulid.
Ritual tersebut selain bertujuan membersihkan benda pusaka berusia lebih dari tiga abad, kegiatan itu juga bermakna pelestarian tradisi Kesultanan Cirebon. Setidaknya puluhan benda pusaka hari itu dibersihkan melalui serangkaian ritual yang didahului doa (tawasul) bersama yang dipimpin KH Abdul Latief dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon.
Benda-benda pusaka yang dicuci di antaranya berupa keris, kujang, hingga mata tombak. Termasuk di antaranya enam benda pusaka yang dicuri pada akhir Juni 2011 lalu.
Pencucian dilakukan langsung Sultan Kaprabonan Cirebon X Pangeran Hempi Raja Kaprabon, menggunakan air yang diambil dari sumur Kaprabonan yang dicampur air bunga mawar, melati, maupun kenanga. Sebelumnya, benda pusaka dibalur air perasan jeruk nipis.
Di antara puluhan benda pusaka yang dicuci hari itu, sebuah benda pusaka yang diberi nama Ki Jimat pun turut dikeluarkan dari kotak penyimpannya dan dicuci. Menurut Hempi, Ki Jimat merupakan simbol Kaprabonan yang diwariskan turun temurun terhadap putra mahkota yang memegang tampuk kepemimpinan Kaprabonan.
“Ki Jimat merupakan simbol keberadaan Kaprabonan sejak Kaprabonan mandiri dari Kesultanan Kanoman pada 1696. Karenanya, Ki Jimat benar-benar kami jaga sampai generasi ke-10 ini,” tutur Hempi.
Dia menegaskan, pencucian benda pusaka lebih pada sebagai upaya menjaga kebersihan masing-masing benda agar tak berkarat. Setelah dicuci, benda-benda pusaka tersebut selanjutnya diberi wewangian.
Pencucian benda pusaka sendiri merupakan salah satu tradisi di Kaprabonan yang masih ada hingga kini. Sebelumnya, jelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, serangkaian tradisi lain pun digelar seperti penabuhan Gong Sekati hingga pertunjukan wayang golek.
“Tapi sejak sekitar 1975, rangkaian itu tidak ada lagi sampai kini karena kendala teknis, seperti peralatan gamelan yang kurang lengkap akibat dijual atau ada di keraton lain,” ungkap dia.
Karena itu, melalui pencucian benda pusaka Kaprabonan bermaksud mempertahankan tradisi yang masih ada. Di sisi lain, kegiatan itu juga sekaligus hendak menunjukkan eksistensi budaya Cirebon yang hidup di sekitar Kaprabonan.
Hempi yang juga dikenal sebagai PNS di lingkungan Pemkab Cirebon ini menambahkan, tradisi pencucian benda pusaka tidak harus dilaksanakan setiap tanggal 1 Maulid setiap tahunnya mengingat benda pusaka sebenarnya baik dibersihkan seminggu sekali. Namun, pencucian dalam hal ini lebih melihat pada momentum, di mana banyak orang berkumpul, seperti Maulid Nabi Muhammad SAW maupun kliwonan. (Muamar/Job)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.