Tradisi Mapasilaga Tedong - Toraja
Tradisi Mapasilaga Tedong adalah Atraksi Adu Kerbau khas Tana Toraja, dikatakan khas karena kerbau yang dijadikan Tedong Aduan memiliki kekhususan dalam jenisnya dan menariknya Kerbau (Tedong) dalam Atraksi Mapasilaga Tedong hanya bisa ditemukan di Tana Toraja, yakni Tedong Bunga atau Kerbau Albino. Dari beberapa jenis kerbau aduan yang paling sering digunakan adalah Tedong Pudu yang berkulit hitam legam, disamping mudah dilatih harga kerbau tersebut tidaklah semahal jenis kerbau lainnya, namun harga paling murah untuk satu kerbau Tedong Pudu usia 6-7 adalah Rp 40 juta, selain itu ada juga Kerbau Salepo bercak-bercak hitam di punggung dan Lontong Bongke yang berpunggung hitam, jenis kerbau inilah yang disebut paling mahal karena harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah.
Tradisi Ma’Pasilaga Tedong bisa dikatakan sebagai Tradisi yang mahal, terutama dalam hal penyediaan Tedong Aduan, bukan hanya harganya saja yang tinggi, perawatannya pun sangat memakan biaya, minimal Rp 2 juta perbulan yang harus dikeluarkan pemiliki untuk biaya perawatan tedong dan upah Pa’kambik (Pengembala Kerbau) dan itu pun belum termasuk nutrisi tambahan berupa telur puyuh dan madu setiap hari selama tiga bulan menjelang hari pertarungan, dan tentu saja apabila kerbau tersebut kalah dalam pertandingan, harganya bisa menurun drastic bahkan bisa dibawah harga kerbau pertama kali dibeli.
Meskipun begitu, Mapasilaga Tedong tetaplah menjadi Tradisi yang telah mengakar kuat di Tana Toraja, berkaitan dengan hubungannya dengan Tradisi Rambu Solo, Atraksi ini tetap bertahan karena aspek penghormatan kepada orang tua serta leluhur yang telah meninggal. Untuk menyiasati unsure prestise yang sangat tinggi, berbagai cara akan dilakukan si pemiliki kerbau untuk memastikan kemenangan dalam Mapasilaga Tedong, termasuk mendatangkan dokter hewan dari Makasar seminggu sekali untuk memerikasa kondisi kerbaunya.
Dalam pelaksanaan Mapasilaga Tedong, dalam Upacara Adat Rambu Solo, puluhan kerbau yang dijadikan Tedong Aduan akan dibariskan di lokasi yang kemudian diarak ke lapangan yang terletak di Rante (Pemakaman) dibelakang tim pengusung gong, pembawa umbul-umbul beserta sejumlah wanita dari keluarga yang ditinggalkan. Saat dalam pemberangkatan, music pengiring pun dimainkan, alunan music tradisional berasal dari sejumlah wanita yang menumbuk padi pada lesung secara bergantian. Selanjutnya sebelum adu kerbau dimulai, panitia akan menyerahkan daging babi bakar, rokok serta air nira yang telah difermentasi kepada pemandu kerbau dan para tamu. Atraksi Mapasilaga Tedong sangatlah meriah dan semakin menarik karena selalu diselingi dengan Prosesi Pemotongan Kerbau ala Toraja, yakni menebas kerbau dengan hanya sekali tebas menggunakan parang.
(Sumber : zainbie.com)








Tidak ada komentar
Posting Komentar