Header Ads


PT KAI Daop III di Tuntut Serius Tangani Asongan

Kota Cirebon : Pemerintah Kota Cirebon diminta serius menangani nasib pedagang asongan yang berjualan di wilayah Stasiun Kereta Api Parujakan Kota Cirebon. Sekitar tiga bulan lagi, PT KAI DAOP III Cirebon, akan melarang para pedagang asongan untuk berjualan di area tersebut. Dan mereka tidak akan bertanggungjawab terhadap nasib para pedagang asongan selanjutnya.

Manager Humas PT KAI DAOP III Cirebon, Sapto Hartoyo menegaskan, keberadaan dan kelangsungan nasib pedagang asongan bukan tanggungjawab pihaknya. Hal itu menjadi tugas pemerintah Kota Cirebon melalui Dinas Sosial, Tenaga Kerja, dan Tranmigrasi (Dinsosnakertrans). "Kami sudah melakukan imbauan pemerintah daerah (Kota Cirebon) melalui dinas sosial. Dan kami tidak bertanggungjawab atas dampak sosial ini," tegas Sapto saat ditemui INILAH, Senin (7/1).

Sapto yakin, dampak sosial tersebut pasti dapat diselesaikan oleh pemerintah kota Cirebon. "Kami hanya bertugas untuk melayani seluruh penumpang agar ketika menggunakan jasa layanan PT KAI selalu merasa aman, nyaman, dan selamat sampai tujuan," ujarnya.

Kota Cirebon : Banyaknya saran, kritikan, bahkan keluhan dari para penumpang menjadi alasan utama DAOP III melakukan penertiban agar pedagang asongan tidak berjualan di dalam gerbong, dan di area stasiun. Banyak yang mengeluh bising, dan lebih lagi, ada yang mengaku sering kehilangan barang ketika pedagang asongan masuk ke gerbong.

Sapto menambahkan, sejauh ini pihaknya sudah memberikan kebijakan khusus di wilayah DAOP III Cirebon dengan tetap memberikan izin jualan di stasiun Parujakan. Namun, tiga bulan mendatang, stasiun parujakan dipastikan akan bersih pedagang asongan.

"Sebetulnya kami sudah melanggar aturan direksi untuk membersihkan lokasi stasiun dari pedagan asongan. Tapi saya sadar, tidak bisa sekaligus, dan harus bertahap," tambahnya.

Hj Atikah (64), warga Purworejo Jawa Tengah, yang menjadi salah satu pengguna jasa Kereta Api Sawunggali, mengatakan, ia merasa prihatin dengan dampak sosial penertiban tersebut. Artinya, pedagang asongan adalah rakyat biasa.

"Bagus sih tertib, tapi saya minta pemerintah bertanggung jawab atas nasibnya selanjutnya. Kasihan, karena ini cara mereka bertahan hidup," kata Atikah

Penumpang lainnya asal Kebumen Jawa Tengah, Bahrudin (48) mengatakan, keberadaan pedagang asongan sering membuat bising dan ribet. Ia sering merasa tidak nyaman ketika sedang istirahat.

"Intinya layanan kereta api tiap tahun mengalami peningkatan. Dan saya sepakat, pedagang asongan dihilangkan, karena sering mengganggu dan bising," tutur Bahrudin ( CR )

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.