Tahun 2017, 10 Sekolah Di Kota Cirebon Percobaan Ekskul Diniyah
Kota
Cirebon (89,2 CR) - Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) mengadu
kepada anggota dewan Kota Cirebon dari komisi C mengenai peraturan daerah
(Perda) Diniyah yang tidak berjalan efektif. Kendalanya selama ini
karena pendidikan diniyah atau sekolah madrasah hanya berjalan di tingkat RT dan RW, belum
menyentuh pada pendidikan formal.
Ketua
Komisi C Dr Doddy Aryanto MM menjelaskan, hasil kesepakatan Pertemuan FKDT dan Kementrian Agama Kota Cirebon (Kemenag) serta Dinas Pendidikan difasilitasi komisi C sepakat bahwa pada tahun depan
akan dibuatkan MOU untuk menerapkan ekskul Diniyah di sekolah SD dan SMP
di Kota Cirebon. Orang tua murid akan mendapatkan surat edaran dari
Disdik agar mengikutsertakan anaknya dalam eskul tersebut.
"Hasil
pertemuan akhirnya sepakat akan membuat MOU pada tahun 2017 mendatang.
Diharapkan bisa berjalan dengan baik, jika sukses akan berlanjut kepada
seluruh sekolah di Kota Cirebon, " ungkap Doddy setelah selesai rapat di
Gedung DPRD Kota Cirebon siang tadi, Senin (5/12/2016).
Sementara
itu Kepala Dinas Pendidikan Kota Cirebon Jaja Suherman menyampaikan,
penerapan ekskul Diniyah akan dimulai pada 10 sekolah SD dan SMP sebagai
tahap percobaan. akan ada sistem zonasi dalam penerapannya. Sekolah
tersebut akan mendapatkan anggaran sebesar 30 juta untuk satu tahun.
"
SD Agung, SD Kesambi Dalam, SD Pekalangan, SD Panjunan dan SD Samadikun sedangkan
SMP yaitu SMPN 2, SMPN 9, SMPN 12, SMPN 13 dan SMPN 14 Kota Cirebon.
Tahap percobaan baru 40 siswa yang dilibatkan karena melihat anggaran
yang tidak mencukupi " jelasnya.
Lebih
lanjut Jaja menjelaskan,teknis dari pelaksanaan ini nantinya, sekolah
akan menawarkan kepada siswa untuk ikut ekskul Diniyah, kemudian nanti
berkoordinasi dengan Kemenag tentunya guru dari FKDT yang akan
memberikan bimbingan.
Adanya
MOU kemenag dengan Disdik terkait ekskul Diniyah menjadi angin segar
bagi FKDT. Dikatakan Ahmad Mujtahid, selama ini guru Madrasah Diniyah
hanya bisa mengajar dari tingkat RT sampai RW, itu pun gaji yang
diterimanya hasil swadaya masyarakat.
"
Kami tadi mendengar langsung hasilnya dan kami di hargai kalau sampai
MOU tersebut bisa terealisasi. Kami selama ini hanya mengajar dari
madrasah ke madrasah dengan jumlah murid yang sedikit dengan gaji
seikhlasnya, " keluhnya.








Tidak ada komentar
Posting Komentar