Kesultanan Kanoman Gelar Syawalan Di Astana Gunung Jati
Kab Cirebon (89,2 CR) - Grebeg Syawal merupakan tradisi yang menjadi prosesi ritual Kesultanan Kanoman Cirebon sejak beberapa abad lalu. Prosesi ritual yang ditahbiskan (disucikan) dalam bentuk “pengakuan” terhadap silsilah para leluhur dan perhelatan (Kenduri/Selametan atas rasa syukur) yang berisi doa kepada para Raja-raja Cirebon khususnya Raja-raja Kesultanan Kanoman yang telah seda/Laya (wafat).
Menurut Juru Bicara Kesultanan Kanoman Ratu Raja Arimbi Nurtina, ST., M.Hum, Tahun 2019, Kesultanan Kanoman Cirebon melaksanakan ritual Grebeg Syawal yang dipimpin oleh Sultan Kanoman XII, yang mulia Kanjeng Gusti Sultan Raja Muhammad Emirudin yang dalam hal ini diwakili oleh Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran, Patih Kesultanan Kanoman. Esensi prosesi ritual ini merupakan ziarah kubur (Nyekar) Sultan Kanoman XII, Kanjeng Gusti Sultan Raja Muhammad Emirudin bersama segenap keluarga dan kerabat Kesultanan Kanoman ke makam Raja-Raja Kesultanan Kanoman yang telah wafat dan disemayamkan di komplek Astana Gunung Sembung (komplek makam Sunan Gunung Jati)
Prosesi ini diawali dengan berkumpulnya para keluarga dan kerabat Kesultanan
Kanoman di Pendopo Jinem/Bangsal Jinem keraton kanoman.
"Pada pukul 06.30 Wib gusti Kanjeng Gusti Sultan Raja Muhammad Emirudin beserta keluarga dan kerabat Kesultanan Kanoman berangkat dari Pendopo Djinem Keraton Kanoman dan diperkirakan sampai di Astana Gunung Sembung sekitar pukul 07.00 Wib. Sesampainya di Astana Gunung Sembung, Kanjeng Gusti Sultan Raja Muhammad Emirudin memasuki Kori (pintu) Gapura yakni pintu pertama yang ada di dekat alun-alun dan Kori (pintu) Krapyak. Kedua Kori tersebut, merupakan pintu gerbang dari pintu-pintu yang akan dilalui Kanjeng Gusti Sultan Raja Muhammad Emirudin beserta segenap keluarga dan kerabat Kesultanan Kanoman, lalu kemudian memasuki pintu tujuh (Lawang Pitu), " jelasnya kepada Cirebonradio, Rabu (12/6/19).
Masih kata Arimbi, Giri Nur Saptarengga, ketujuh pintu itu antara lain pintu Pasujudan, yakni pintu yang biasa para peziarah umum berdoa dan bertawasul, kemudian memasuki pintu Ratna Komala, pintu Jinem, pintu Rararoga, pintu Kaca, pintu Bacem, baru kemudian ke pintu yang ke 9 yakni pintu Teratai, menuju ruangan dalam pesarean Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang berada di puncak bukit Gunung Sembung (Giri Nur Saptarengga).
Di ruangan dalam pesarean kanjeng Kanjeng Gusti Sultan Raja Muhammad Emirudin bersama keluarga dan kerabat kesultanan melakukan tahlil, dzikir serta berdoa di makam-makam leluhur Cirebon yang ada di dalam Gedung Jinem. Di dalam Gedung Jinem terdapat makam Kanjeng Sunan Gunung Jati (Syekh Syarif Hidayatullah) yang berdampingan dengan makam ibundanya (Ratu Mas Rarasantang atau Nyai Mas Panatagama Syarifah Mudaim) dan makam para leluhur yang selama ini, dikenal sebagai tokoh Cirebon. Di antaranya, Pangeran Cakrabuana (kakak Ratu Mas Rarasantang), Fatahillah (menantu Kanjeng Sunan), Pangeran Pasarean (Putera Mahkota Kanjeng Sunan Gunung Jati), Pangeran Dipati Carbon, Pangeran Brata Kelana, Syarifah Mudaim, Nyi Mas Tepasari, Puteri Ong Tien Nio dan tokoh-tokoh yang lain, "lanjut dia.
Setelah itu, Kanjeng Gusti Sultan Raja Muhammad Emirudin kemudian melanjutkan tahlil, dzikir dan berdoa di makam Panembahan Ratu I (Cicit Kanjeng
Sunan) dan makam Sultan-Sultan Cirebon. Lalu kemudian istirahat sejenak di Balai
Laras Atau Lunjuk. Kemudian Kanjeng Gusti Sultan Raja Muhammad Emirudin dengan diikuti keluarga serta rombongan peziarah, keluar dari Mergu—lokasi pemakaman yang biasa digunakan warga Tionghoa berziarah dan berdoa sebagai bagian dari penghormatan terhadap Puteri Ong Tien Nio.
"Prosesi berikutnya, Sultan Kanoman XII Kanjeng Gusti Sultan Raja Muhammad Emirudin menuju Pesanggrahan Kanoman untuk jeda istirahat dan mencicipi hidangan “jamuan makan” yang disediakan Jeneng serta Kraman Astana Gunung Sembung . Seusai jamuan makan, Sultan Kanoman XII Kanjeng Gusti Sultan Raja Muhammad Emirudin dengan keluarga secara simbolis melakukan tradisi surak/sawer (membagikan uang) kepada masyarakat yang ada di sekitar komplek pemakaman," tuturnya.
Beberapa saat setelah itu, rangkaian prosesi ritual ditutup oleh Sultan Kanoman XII Kanjeng Gusti Sultan Raja Muhammad Emirudin, segenap keluarga serta kerabat Kesultanan menuju Lawang Pasujudan untuk pamit pulang kembali ke Keraton Kanoman.
Grebeg Syawal yang berlangsung setiap tahun, dimaksudkan sebagai rasa syukur kepada Allah SWT atas karunianya sehingga dapat melaksanakan ibadah puasa selama bulan ramadhan dan puasa sunah 6 hari (puasa syawalan). Prosesi ritual ini, dijadikan media pertemuan (silaturahmi) dan mengukuhkan persaudaraan antar umat islam (ukhuwah islamiyah-basyariyah) antara Sultan dengan masyarakat luas yang berziarah di makam kanjeng Sunan Gunung Jati.
"Rangkaian prosesi grebeg syawal dalam banyak sisi telah mengekspresikan khazanah kebudayaan Islam Indonesia yang tidak bisa dilepaskan dari identitas masyarakat Indonesia khususnya Cirebon.
Akhirul kalam, kami, Keluarga Kesultanan Kanoman (Keraton Kanoman Cirebon) mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H. Taqabbalallaahu minna wa minkum, syiamana wa siyamakum, kullu ‘amin wa antum bi khair. Minal ‘aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan bathin kepada seluruh masyarakat Cirebon dan masyarakat Indonesia. Semoga amal ibadah kita dapat menghantarkan kita semua menjadi orang orang yang bertakwa. Amin yaa rabbal ‘alamin, " tutup Arimbi [Wlk]
Tidak ada komentar
Posting Komentar